Sabtu, 18 Juli 2015

Ayat - ayat Abu Bakar

Ayat-ayat Abu Bakar

Oleh: Putu Suarthama


MODAL minimal untuk jadi orang sukses;  1) harus banyak membaca, 2) harus mampu menulis yang baik dan benar, 3) harus punya relasi luas, 4) harus menguasai Bahasa Inggris, 5) harus lancar mengetik, 6) harus bisa motret,  7) harus bisa menyetir mobil.

Itulah  ‘ayat-ayat’ dari Abu Bakar  yang selalu terngiang  jika mengenang pergaulan masa muda saya di Teater Poliklinik (1979-1980) yang dipimpinnya. Saat itu saya sempat cuek – (egp) emang gue pikirin. Maklum, sebelumnya  sudah tak terhitung sindiran lain dari sosok Abu Bakar  yang  mengesankan sinis, antagonistis dan sarkastis, mengiris hati dan memanaskan telinga saya .

Tapi setelah saya renungkan, ‘ayat 7 harus’ tersebut sungguh temuan ‘mantra’ motivator yang jenial. Diam-diam saya tulis ayat-ayat ala Abu itu di buku harian diantara lembaran corat-coret gagasan atau konsep tulisan lainnya. Mengingat saat itu saya yang tengah bergairah bersastraria, nyaris tak peduli soal menyetir mobil atau mengintensifkan praktik bahasa Inggris  yang masih pas-pasan. Bagi saya saat itu, waktu  untuk  bersastra jauh lebih bermanfaat dan bermartabat. 

Tapi, soal syarat yang lain tidaklah terlalu parah. Tentu,  belum memenuhi kreteria Abu Bakar  yang punya selera di atas rata-rata. Misalnya, soal baca buku,  perpustakaan pribadi ayah di kampung dengan beragam jenis buku dari ‘seks yang sehat’, laporan jurnalistik, biografi tokoh politik, bahasan seni budaya, sampai filsafat, adalah pelarian favorit saya sejak lancar membaca. Soal  mengetik dan menulis, sejak kelas 2 SMP (1974) saya sudah menikmati honor  lumayan dari hasil menulis puisi atau artikel di koran lokal dan nasional.

Rasanya  ayat-ayat itu pun bisa berlaku umum. Bahkan, jika dibanding buku semacam:   ‘cara cepat jadi orang sukses’ , ‘kaya tanpa modal’, ‘’sukses dan kaya dalam sekejap’  serta banyak lagi jenis buku motivator yang  ternyata hanya janji angin surga,  saya telah buktikan ‘kiat sukses ala Abu Bakar’ ternyata lebih tokcer.

Ketika saya pilih jalan hidup jadi jurnalis, terutama saat melanjutkan karier di Jakarta (1984-2006) riwayat ayat berupa pesan singkat itu sungguh dahsyat bagi menunjang penguatan dan percepatan karier kewartawanan. Saya kurang yakin formulasi ‘ayat-ayat jadi jurnalis hebat’ itu bisa saya dapatkan, jika tak sempat mengenal sosok Abu Bakar.

Berkat mantra itulah pencapaian karier sebagai jurnalis boleh saya banggakan. Saya dipromosikan jadi  redaktur  relatif cepat (setelah 2 tahun diangkat jadi wartawan tetap), umumnya rata-rata 5-10 tahun. Bahkan, banyak wartawan lebih senior dengan jam terbang lebih dari 20 tahun  ketika pensiun masih hanya dalam status reporter.

Andil ayat-ayat Abu  Bakar  itu  saya kira ikut mengantarkan saya jadi lulusan terbaik dalam sebuah tes dari LPPM Jakarta (1988) yang dikuti  45 wartawan banyak yang lebih senior, berpengalaman tinggal atau studi di mancanegara,  maupun alumnus universitas ternama di dalam maupun luar negeri. Saya pun jadi lebih ‘pd’ (percaya diri) ketika ditugaskan kantor meliput ke sejumlah negara.

Jadi Kernet Bemo

AYAT-ayat Abu Bakar  menjadi salah satu momen kunci yang selalu menyentak batin jika saya mengenang pergaulan saya yang singkat tapi intens dengan Mas Abu. Saat itu, saya baru tamat SMA dan menunggu hasil tes di Unud. Pada suatu hari, dari percakapan singkat dengan Abu Bakar  sehabis menyaksikan latihan di markas Teater Poliklinik, Jalan Sakura, Denpasar, saya langsung merasa bertemu lawan diskusi yang asyik nan menantang.

Jarak usia kami memang lumayan jauh, tapi ternyata saya bisa cepat klik. Bisa jadi karena hobi membaca dan rajin ikut diskusi di rumah dengan teman-teman pergerakan ayah,  teman-teman  kakak yang aktivis kampus peminat politik dan seni budaya. Walhasil saya pun merasa bagai buah yang matang karena dikarbit – dewasa sebelum masa.

Buktinya, Abu yang  menurut Mbak Mini ( istrinya) tak mudah akrab dengan sembarang orang, terlebih jika wawasan lawan bicaranya kurang ok, sangat antusias mengundang saya untuk sering ke sanggarnya. Begitulah, waktu berlalu,  tiap kuliah kosong atau tak ada liputan  (sejak 1978 saya jadi koresponden sebuah koran di Jakarta) saya  pasti bertandang ke rumah Abu.

Kami cepat akrab karena saat itu banyak isu yang bisa kami didiskusikan dengan seru. Dari soal senibudaya, politik, sampai hal yang remeh temeh soal seks dan calon pacar saya (?). Kadang, sambil masak Mbok Mini suka ikut nimbrung. Masalah pencekalan pentas Rendra, memprediksi akhir perang Iran-Irak (1979-1987) yang melibatkan negara superpower Amerika Serikat dan Uni Soviet,  soal nominasi Pramoedya Ananta Toer sebagai pemenang Nobel Sastra, dan isu nasional lainnya.

Kami pun penuh antusias mengapresiasi kinerja  mantan Dirjen Kebudayaan dan pendiri Unud, Prof Dr IB Mantra yang baru lewat setahun terpilih sebagai Gubernur Bali (1988). Warisannya, kompleks Art Centre,  Pesta Kesenian Bali (PKB), Unhi, LKMD, LPM. Anugrah Seni Budaya dan banyak lagi, sungguh terobosan kreatif dan segar yang  jadi monumen prestasi pemimpin Bali yang sampai saat ini tak tertandingi oleh para pengganti sesudahnya.

Jika kebetulan tidak ada anak teater latihan dan  tamu yang biasa  datang dan pergi umumnya kawan seniman lokal maupun nasional, saya sering menemani Abu  mengikuti  acara diskusi, menyaksikan pementasan dan pameran lukisan atau foto, bersilatuhrahmi atau untuk membezuk  kawan-kawan seniman yang lagi sakit atau kena musibah.

Kami pun menemukan banyak kesamaan  minat dan visi kehidupan. Terutama soal paham liberalisme, HAM dan  humanisme. Agaknya yang paling kompak adalah dalam pemahaman universalitas, pluralitas dan relijusitas yang agnostik (?). Kami sering tertawa lepas mengolok-olok  jika membaca pernyataan konyol atau sok ‘jaim’ (jaga image) tapi kedodoran para aparat, birokrat atau tokoh agama di koran atau TV.

Jika jenuh membaca atau capek diskusi, saya  suka menemani Abu keluar masuk  kampung  menunggang  sedan tua ‘Citroen  absurd’-nya  untuk berburu semal. Bahkan, sesekali saya jadi kernet ketika beberapa waktu Abu pernah bereksprimen (?)  jadi supir bemo untuk trayek Gajahmada – Kreneng – Sanur – Sanglah.

Pulang siang atau sore, di dapur sudah tersedia menu kenangan khas olahan Mbak Mini ; nasi beras merah, pepes tahu, goreng tempe atau pindang dan sayur kelor kuah penuh bawang goreng, dan  sambal uleknya, ehmm… sungguh maknyus…! Menu ala Mini itu sampai hari ini menjadi menu favorit saya, nyam,...nyam…!

Rekonstruksi Proses Kreatif

JIKA Mas Abu sekeluarga tak ada di rumah, saya biasa baca-baca di perpustakaan pribadinya di loteng di atas dapur. Dari sini saya makin banyak mengenal karya-karya sastrawan dan pemikir nasional maupun internasional. Sesekali saya membuka-buka album foto atau bendel dokumentasi, kliping tulisan maupun foto-foto karya Abu Bakar.

Sehingga, saya bisa merekonstruksi  proses kreatif dan perjalanan karier keseniman  Abu yang telah dirintis sejak usia sekolah. Dari kliping koran saya tahu aktivitas Abu  yang mengantarkannya ke dunia teater, dan sejumlah tanda penghargaan  jadi bukti atas prestasi Abu Bakar  yang beberapa kali memenangkan lomba penulisan, lomba foto,  dan  tentu  sebagai sutradara teater.

Dan, berkat gaul dengan Abu  saya jadi banyak kenal seniman lokal dan nasional yang jika ke Bali sempat singgah bahkan menginap berhari-hari di rumahnya. Hal itu punya andil besar memuluskan relasi saya dengan banyak nara sumber ketika berkarier di Jakarta.

Sebab, tiga tahun pertama di Jakarta (1984-1987) saya memilih jadi wartawan lepas bidang senibudaya dan hiburan, sambil kuliah di Jurusan Filsafat FSUI. Alasannya,  biar bisa bebas nongkrong dan ngobrol dengan seniman di TIM, Bulungan,  Senen,  Balai Budaya atau Pasar Seni Ancol, disamping bisa nonton film dan konser musik gratis. Sejujurnya juga ingin mewujudkan mimpi masa remaja dari kampung,  bisa dekat ngobrol sama  artis-artis top Ibukota (1980-an) yang aduhai. Tapi, tentu bukan kelas saya untuk minta tandatangan segala, cius…!

Dan, yang harus digarisbawahi di rumah Abu pula saya dapat jodoh - primadona Teater Poliklinik (1980), mendiang Alice Diana Krisnawati, pemeran utama Maria Zaitun – dramatisasi puisi Nyanyian Angsa karya Rendra, pentas Teater Poliklinik di Gedung Tri Prasetya RRI Denpasar (Pebruari 1980) yang heboh saat itu.

Romansa kehidupan saya dengan  bunda dari sepasang anak saya, Krisna Widiathama (28) – alumnus Seni Grafis (2009)  ISI Yogyakarta dan Laksmi Widiathama (21) – mahasiswi Fakultas Hukum (Semester VII), Universitas Atmajaya, Yogyakarta  itu, tentu berkat jasa (dimakcomblangi) Mbak Mini. Thx my brothers…!   

Intensitas relasi kami dimungkinkan karena sehabis pentas Nyanyian Angsa, aktivitas Teater Poliklinik tengah jeda beberapa bulan. Sebagian besar eks pendukung dari siswa SMA I Denpasar antara lain, Gus Wyasa, Windhu (sekarang dosen Unud), Tenaya (bisnis bengkel), Alice Diana (almarhum), Dyana Yoga, dan lainnya pada sibuk siap-siap ujian akhir.

Anggota lain, seperti Bambang, Tuti atau Dian tiba-tiba menghilang, Yuliarsa kuliah ke Yogya, Kadek (Sringgi) Suardana mengajar kerawitan di Dumai (Sumatra), Yani VCDY nunut pacarnya ke Jakarta, Ronny dibawa bule ke Australia, Anton tergaet anak pengusaha hotel di Kuta, atau Engline tampak sibuk mondar-mondir Denpasar – Ubud – Kuta bisnis barang antik (?) dengan art dealer asal Perancis.

Jadi, saya yang  numpang di rumah kakak di  Jalan Suli, Gang III hanya 100-an meter dari  rumah keluarga Abu Bakar, praktis jadi ‘pengawal tunggal’ untuk menemani sejumlah aktivitasnya. Ya, kadang saya jenuh juga terlebih  jika Mas Abu  lagi kumat hobi utak-atik mobil antiknya. Jadwal pribadi dan kemewahan waktu membaca saya akan terganggu sebab, sedikit-sedikit dipanggil.

Par (begitu saya biasa dipanggil), …”tolong ambil kunci nomor  anu…, atau minyak pelumas, atau obeng, dan banyak lagi. Jika jenuh dengan perintah sejenis itu, sering berhari-hari, saya pun mengendap-ngendap cepat kabur. Ke Mbak Mini saya pamit mau ke kampus atau alasan ngawur lainnya. Padahal, saya ke Perpustakaan Umum - Jalan Kamboja,  ke Toko Buku Guna Agung atau Balimas. Jika malam Minggu atau hari libur, saya ikut mengisi Acara Apresiasi Sastra yang dikelola Lembaga Seniman Indonesia Bali (Lesiba) pimpinan mendiang Made Sukada dan Gusti Bawa Samar Gantang di Radio Menara – Jalan Sulawesi, Denpasar.                    

Jadi Keluarga Imajiner

BAGI saya Abu lebih dari seorang sahabat,  mentor dan motivator handal (seperti juga diakui banyak kawan), tapi termasuk ‘keluarga imajiner’ saya selama ini. Walau kami sempat harus berpisah setelah saya memilih lebih fokus kuliah sambil merintis karier jurnalis dan hijrah ke Jakarta (1984), tapi tiap mudik ke Bali saya selalu berusaha singgah ke rumahnya, tapi sayang sering rumahnya terkunci rapat.

Dari kawan-kawan di Bali saya kemudian tahu, Abu dan istri sering harus mondar-mandir menengok cucu ke rumah sepasang putrinya (Iin dan Ossy) yang keduanya sudah jadi dokter dan tinggal dengan keluarganya di rumah masing-masing.

Walhasil, dalam rentang puluhan tahun sesudahnya hanya sesekali kami bisa bertemu. Salah satunya di sebuah gang di Jalan Suli, dekat rumah kakak saya, sayang  kami terpaksa  ngobrol cepat karena saya  harus mengejar pesawat ke Bandara untuk melanjutkan tugas liputan. Di Jakarta saya sempat bertemu ketika Abu pentas dengan dramawan Prancis (1985).

Dan, ketika istri saya meninggal pada 4 Januari 2004, Abu dan Mbak Mini datang melayat dan ikut mengantar sampai ke makam di Sukawati.

Walau jarang jumpa, tapi setiap ketemu suasana selalu seperti keluarga yang lama berpisah. Saya memang tidak hanya bergaul dengan anak teater, tapi juga akrab dengan keluarga Abu, adik, ipar (Marzuki, Manto, Minah)  juga anaknya Iin dan Ossy yang saya kenang  selalu penuh tanya dan tawa riang jika saya mendongeng perihal Leak, terutama soal Celuluk atau Cicing gudig bengil.

Belakangan kami sering berhubungan, setelah saya putuskan kembali ke Bali, karena kedua anak tinggal di Yogyakarta. Abu Bakar  ternyata bagai api nan tak kunjung padam dalam gairah berkesenian. Saya pun sempat undang ke sejumlah acara apresiasi budaya yang diinisiasi Koran ReNON yang  saya dirikan bersama Pak Oles dan Gus Martin sejak Oktober 2010.

Saya selalu mengenang relasi dengan keluarga Abu-Mini sebagai keluarga istimewa. Bahkan Abu juga kenal ayah saya mendiang Made Sanggra dan kakak-kakak saya yang juga aktif  jadi wartawan dan sastrawan saat itu. Saya sependapat,  jenis persaudaraan itu bisa bersifat biologis dan psikologis. Bisa jadi seorang bersaudara kandung tapi tidak bisa berinteraksi sosial dan emosional secara total, karena merasa berjarak secara fisik atau psikologis. Sebaliknya walau tak sedarah, bisa saja cocok dan kompak dalam banyak hal.

Dalam pertemuan singkat di sejumlah acara, Mbak Mini selalu membisikan bahwa keberadaan atau nasib saya dan anak-anak sering dipertanyakan Abu Bakar, setelah istri saya meninggal dunia. Maka, saya lihat wajah mereka ceria penuh syukur, ketika tahu kondisi saya yang bisa hidup wajar, dan yang terpenting 100 % dijamin dari hasil kerja keras yang bebas KKN (korupsi, kolusi, nepotisme).

Ayat-ayat Lain

WALAU  intensitasnya tidak seperti periode (1979-1980), namun hubungan persaudaraan kami sesunguhnya tak pernah benar-benar terputus selama 30 tahun terakhir. Justru dengan jarak relasi pasang-surut tersebut saya merasa bisa lebih obyektif memberi kesaksian, di tengah sejumlah kontraversi yang memang akrab dengan sosok Abu selama ini.

Misalnya, penampilan  Abu Bakar  yang terkesan melawan arus - cuek, dengan rambut gondrong , kumis dan jengot yang liar serta gaya bicara sering provokatif, sinis, sarkastis, langsung menohok tanpa basa-basi. Hal itu niscaya banyak mengundang reaksi dan persepsi minor,  arogan dan egois bagi yang belum benar-benar mengenalnya.

Bagi saya, seperti kesan sejumlah orang yang mengenalnya secara lebih dekat, Abu adalah tipikal sosok yang idealis, kritis, konsisten dengan sikap dan pilihan hidup, pekerja keras, perfeksionis dan  humanis. Buktinya?  Ya, Abu Bakar adalah tonggak dan tokoh seniman teater modern di Bali yang dedikasinya begitu total dan konsisten nyaris sepanjang hidupnya sejak tahun 1960-an.  
  
Bagi yang pernah bekerjasama atau terlibat dalam pementasan atau proyek seni dengan Abu, tak akan sulit bertestimoni betapa Abu begitu desiplin, keras, ketat dan perfek dalam perancangan dan proses penggarapan sebuah proyek seni. Istrinya sendiri sering kecipratan marah jika dianggap menganggu konsennya. Saya  yang termasuk  ‘orang dekat’ tak jarang kena damprat dan diusir keluar panggung jika dianggap kurang fokus dan tidak total dalam sebuah sesi latihan.

Sorotan soal pola dan gaya hidup Abu-Mini  yang terkesan ‘melawan arus’ ,  bagaimana mungkin bisa hidup layak? Nah, saya kira banyak yang sependapat, setelah sukses  mengantarkan sepasang putrinya yang sehat dan smart sejak kecil menjadi dokter ahli, semua sorotan sinistik bin pesimistik  atas gaya hidup  ‘pasangan nyeleneh’  itu  otomatis gugur demi kebenaran.

Hal itu juga pembuktian dari pesan atau ayat lain yang juga selalu saya ingat, “gairah berkesenian tak boleh sampai melupakan sekolah atau kuliah. Seni memang bisa membuat hidup lebih indah, tapi masa depan tidak akan selalu mudah…!”

Rasanya  tak banyak juga yang paham, sebelum memutuskan terjun total berkesenian  pasangan Abu-Mini  telah mempersiapkan ‘infrastruktur rumah tangga’ yang lebih dari lumayan. Berkat hasil kerja keras dan cerdas mengelola hasil jerih payah di masa muda mereka mampu membangun sebuah rumah di Jalan Sakura dan berinves sebidang tanah di kawasan Petitenget, Kuta.

Agaknya juga tersedia dana cadangan jika menilik kehidupan ekonomi keluarga yang cukup wajar dan lancar terkait biaya sekolah anak, biaya untuk menampung sejumlah adik ipar dan  dana untuk hobi otomotif (mobil dan motor tua) untuk operasional hobi fotografi yang saat itu (1980-an) termasuk hobi mewah bagi orang kebanyakan.

Soal humanis, saya termasuk yang banyak merekam, betapa Abu sangat peduli terhadap rekan seniman yang tengah sakit atau kena musibah. Dulu, saya sering diajak menemai bezuk atau bersilaturahmi ke rumah, studio atau sanggar sejumlah seniman. Belakangan saya sering  di SMS jika ada kawan seniman yang tengah sakit atau dirawat. Abu pun sering meyakinkan relasinya untuk bersetia kawan  dan ‘peduli sosial’ kepada anggota sesama seniman yang ekonominya kembang kempis.

Pengalaman personal saya  juga  bisa menakar kadar romantisme dari Abu adalah mentoringnya bagaimana harus bersikap jika naksir cewe. Saya disuruh mengirim surat dengan puisi, memotret dan menulis cewek yang ditaksir di koran. Eh, saya yang semula cuek soal cewek, dengan formula ‘ayat cinta ala Abu Bakar’  itu ternyata sungguh mujarab. Sukses pol!

Satu lagi, hal yang saya tak lupa, ketika pernah terjadi perselisihan relasi rumahtangga Abu-Mini yang serius, saya saksikan betapa sifat humanis dan romantis Abu begitu kentara. Saat itu suatu pagi (1979), saya temukan Abu dengan wajah kalut tengah merenung dan gelisah. Saya membaca suasana tak kondusif. Sang permaisuri kabur dari rumah. “Par, jika aku harus bercerai dari istriku, apa pendapat kau?” Kalimat yang memecah kesunyian dan kebekuan.

Saya yang baru berusia lewat 20 tahun sempat bingung mencari jawaban. Tiba-tiba saat itu saya mendengar tangis Iin dan Ossy dari kamar tidurnya sambil memanggil-manggil bundanya. Rupanya kedua anak yang masih SD  itu tengah dijaga nenek (bunda dari Abu). Kami terlibat diskusi cukup alot. Spontan hati saya tersentuh dan memotivasi cari  solusi.

Saya ingatkan Abu  jangan pernah berpikir untuk bercerai. “Kasihan anak-anak Mas Abu. Jangan  ambil risiko hanya untuk kepentingan ego, berdamailah dengan diri sendiri. Saya tak yakin Mas Abu bisa menemukan pasangan yang lebih baik dan cocok sebagai pengganti Mbak Mini. Terlebih, demi masa depan anak-anak. Biar saya cari Mbak Mini…”!

Tak lama setelah saya sok tampil sebagai konsultan perkawainan, wajah Abu yang sempat tegang dan gusar berangsur wajar. Walhasil, Mbak Mini yang semula menolak pulang akhirnya berhasil juga saya yakinkan dengan ‘ayat versi saya’ . Rumah tangga pasangan muda saat itu , akhirnya kembali berkumpul dan astungkara kompak sampai hari ini. Bagi saya ‘pragmen rahasia keluarga Abu Bakar ’ itulah pembuktian sisi romantis dan humanis yang paling esensial dan natural.

Saya sangat meyakini  adagium, don’t  judge a book by It’s cover  jangan menilai buku dari sampulnya! Sebagai penghobi buku, saya telah buktikan kebenaran kalimat bijak itu. Beberapa kali kecele saat melarikan diri dari teror rutinitas ke toko buku atau blusukan di kios-kios   loak buku bekas di Jakarta atau Yogyakarta.  Buku yang covernya  terkesan seksi, mewah  nan mentereng, sering isinya ternyata ‘sampah’ belaka.

Sebaliknya, banyak buku yang covernya sangat amat tak meyakinkan, ala kadarnya atau terkesan main-main, tapi woow… isi dalamnya  man…sungguh impresif, inspiratif  dan menggetarkan! Bagi saya hal tersebut analog dengan sosok Abu Bakar.

Penulis adalah Redaktur Senior Koran ReNON